Tampilkan postingan dengan label Sociolinguistic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sociolinguistic. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2013

Tahap Perkembangan Bahasa

Perkembangan pemerolehan bahasa pertama (first language acquisition) dimulai sejak awa bayi lahir, dan berkembang dengan pesat pada masa critical age (2-5 tahun), dimana otak dengan cepat berkembang untuk menyesuaikan terhadap segala input yang diperolehnya.
Secara garis besar perkembangan bahasa dibagi menjadi beberapa tahap, yakni;

Tahap Pra Bahasa (pre language stage)

Sebelum bayi mampu berbicara, mereka berkomunikasi melalui tangisan, senyuman, dan gerak tubuh. dan tahapan ini deisebut pre language stage, yang berlangsung sekitar usia 4-9 bulan pertama.

Tahap kata awal (first word stage)
Setelah bayi melewati masa satu kata mereka, yang mengawali penguasaan bahasa mereka, perbendaharaan terhadap kosa kata baru dengan cepat berkembang pada bayi. Pada kira-kira umur 20 bulan, bayi sudah akan mampu menguasai sekitar 50 kata.

Pada masa ini, bayi sudah mulai menginterpertasikan kata-kata yang mereka dengar dengan makna dari kata tersebut. dan bagi mereka, satu kata yag diucapkan bisa berarti banyak atau makna yang berlainan, yang disebut hollophrases, yaitu bentuk mengekspresikan suatu frase atau ide yang komplek menjadi beragam makna. Sebagai contoh, anak berkata 'mimi', dan 'mimi' yang sedang diucapkan oleh anak tersebut bisa menjadi beragam makna, bisa berarti 1) minta minum 2) ada air 3) atau memanggil ibu nya, dan semua makna tersebut tergantung dari mimik/ ekspresi juga gesture yang disampaikan oleh anak tersebut.

Karena keterbatasan jumlah kosakata yang dimiliki anak, maka mereka hanya bisa berkomunikasi dengan menggunakan kosakata terbatas untuk mencakup sesuatu yang mereka maksudkan. Pada masa ini dikenal dengan istilah makna meluas (overextension) dan makna menyempit (underextension) dari makna bahasa yang anak ucapkan. Contoh: ketika anak berkata 'dog' untuk mengasumsikan semua binatang berkaki empat, mereka sebut 'dog' (overextension).

Tahap Kalimat Pertama (First Sentences stage)
Pada kurang lebih usia 8 bulan, banyak anak yang sudah mulai memasuki masa two-word stage (dua kata), yakni menggabungkan dua bentuk kata walau masih dalam bentuk sangat sederhana, seperti 'Daddy-book', 'play-car', 'dog-run'. Penggabungan bentuk kata seperti contoh belum bisa diktakan sebagai kalimat, tapi biasa disebut dengan telegraphic speech. Dimana kata-kata yang diucapklan bisa mencakup banyak makna.

Tahap Belajar Tata Bahasa (Learning Grammar Stage)
Setalah perbendaharaan kata mereka semakin banyak, dan kemampuan otakpun sudah lebih mapan dalam penerimaan bahasa. Anak secara tak sadar sudah mulai menggunakan kata-kata yang mereka miliki untuk disusun menjadi bentuk kalimat, sesuai dengan bentuk dasar susunan suatu kalimat = Subjek-predikat-objek. Namun dalam penguasaan bahasa Inggris, penggunaan struktur yang hanya terdiri subject-verb-object belum tentu menunjukkan arti atau semantik yang benar.

Tahap Belajar Kosa Kata (Learning Vocabulary Stage)
Selama tahun sebelum sekolah, siswa belajar banyak kosakata baru secara cepat. Setiap enam bulan dalam rentang waktu usia 2-4 tahun, mereka mampu menguasai 200 hingga 2000 kosa kata baru. Dan dalam masa ini pula, mereka menikmati periode awal pemerolehan bahasa bagi mereka. Oleh karena itu, pada masa ini anak harus dibiasakan dengan beragam permainan yang dapat mengasah kemampuan pemerolehan bahasanya, seperti: puzzle, alphabet box, flash card, ataupun beragam media belajar lainnya.
Dalam proses perkembangan pemerolehan bahasa, ada yang disebut dengan caretaker speech/ baby talk/ caregiver language/ infant-directed talk (IDT), atau child-directed speech (CDS), yakni sebuah bentuk bahasa non standar yang biasa digunakan oleh orang tua dalam berkomunikasi pada anak/ balita. Ciri-ciri caretaker speech, biasanya;
  • Pengucapannya lebih pendek/ sederhana
  • Menggunakan tata bahasa sederhana
  • Untuk beberapa kata yang sulit atau abstrak, diucapkankan dengan banyak pengulangan
  • Pengucapannya jelas, dengan penekananan intonasi yang jelas dan perlahan
Fungsi utama dari caretaker speech adalah untuk mempermudah pemerolehan bahasa dipahami dan kemudian ditiru oleh anak.

 

Minggu, 13 Januari 2013

Language Acquisition


Bahasa pada dasarnya merupakan milik manusia. Walaupun mahluk lainpun selain manusia, misal binatang seperti kucing, berkomunikasi antar sesamanya, namun bentuk komunikasi tersebut tidak bisa disebut sebagai bahasa.


Bahasa dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu bahasa verbal, bahasa tulisan, dan bahasa tubuh (gesture). Manusia menggunakan bahasa sebagai bentuk komunikasi baik dalam bentuk verbal ataupun tulisan. Biasanya, bahasa tulisan digunakan untuk merekam suatu jejak sejarah dan dapat digunakan sebagai media penyampaian suatu peradaban dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bahasa adalah sesuatu yang kompleks, yang terbentuk dari suatu sistem suara yang memungkinkan terjadinya pembeda antar satu lambang bunyi sehingga menciptakan kata yang berbeda dengan makna yang berbeda pula.

Dengan bahasa, memungkinkan bagi kita untuk menyampaikan pemikiran, mendeskripsikan suatu kejadian, menceritakan suatu cerita, menyampaikan pidato, dan beragam jenis aktivitas lainnya, yang merupakan salah satu ciri dari manusia untuk hidup bersosialisasi antar sesama. Dengan kata lain, bahasa adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Apa itu Pemerolehan Bahasa (language acquisition)?


Dalam buku language acquisition (kaswan,2010) disebutkan, “language acquisition is the process by which humans are acquire the capacity to perceive, produce and use words to understand and communicate.” Pemerolehan bahasa adalah sebuah prsoses dimana manusia memperoleh kemampuan untuk menyadari, menghasilkan, dan menggunakan kata-kata yang bisa dipahami dan digunakan sebagai bentuk komunikasi. Jadi dapat dikatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah usaha sadar ataupun tanpa disadari dalam menghasilkan suatu unsur suara dalam bentuk kata-kata yang dapat dipahami/ bermakna yang digunakan untuk berkomunikasi.


Kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi adalah suatu aspek pembeda manusia dari mahluk hidup lainnya. Karena seperti disebutkan di atas, walaupun binatang berkomunikasi, namun mereka hanya mampu menggunakan bahasa dalam rentang terbatas, baik dari struktur sintaksis, kosakata, dan hanya bahasa mereka terbatas hanya untuk sesama spesies.


Proses Pemerolehan Bahasa


Apakah bayi berbicara untuk menyampaikan rasa laparnya? Hakikatnya, bayi yang baru lahir tidak dilahirkan dalam keadaan bisa berbicara atau berbahasa. Namun, mereka tetap malakukan komunikasi, tapi bentuk komunikasi yang mereka gunakan adalah salah satu bentuk suara untuk menyampaikan maksud ataupun keinginan/ hasrat mereka pada orang lain, seperti menangis, mimik wajah, gerak badan, ataupun lainnya, dan itu semua bukanlah dikatakan sebagai bentuk bahasa.


Bayi yang baru lahir haruslah dibiasakan dengan suara karena itu akan sangat berpengaruh pada proses pemerolehan bahasa mereka. Bukankah ada banyak kasus di dunia, dimana seorang anak yang tidak dibiasakan dengan bentuk bunyi atau suara dari bahasa manusia, contoh; anak yang tumbuh dan dibesarkan oleh binatang anjing, pada akhirnya anak tersebut tidak dapat berbicara seperti layaknya manusia normal, dan malah berkomunikasi dengan bentuk komunikasi yang sama dilakukan oleh para anjing yang hidup disekitarnya. Atau ada anak yang tidak bisa berbicara karena dalam proses perkembangannya, anak tersebut diisolir oleh orang tuanya dengan tidak diajak berkomunikasi selama proses pertumbuhan anak tersebut dan malah dibiarkan tinggal dalam lingkungan/ rumah yang dipenuhi banyak burung, lalu suara yang biasa didengark oleh anak tersebut hanyalah kicauan burung-burung. Dan pada akhirnya, anak tersebut tidak dapat berkomunikasi/ berbahasa manusia secara normal dan malah mampu berkomunikasi seperti layaknya burung yang bercicit.


Dua kasus di atas membuktikan, bahwa bahasa tidak didapatkan secara tiba-tiba tapi memerlukan suatu proses, pembiasaan, dan berlangsung secara terus-menerus. Manusia yang terbiasa dari lahir mendengar bentuk bunyi bahasa, lambat laun akan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa yang biasa mereka dengar dari lingkungan tempatnya tumbuh. Itulah alasan mengapa seorang anak yang tumbuh dan besar di suatu tempat dapat menguasai suatu bahasa, misal bahasa Inggris, tanpa harus diajari bahasa tersebut secara formal. Hal itu terjadi karena bahasa tersebut biasa dia dengarkan dari lingkungannya tempatnya tumbuh.


Dalam proses pemerolehan bahasa, seseorang harus memiliki keseimbangan yang baik antara indera pendengaran (telinga), pengelihatan (mata), dan juga indera pengucapnya (mulut/ lidah). Bayi yang baru lahir tidak dapat berbicara, namun dengan cepat mereka dapat belajar berbicara, hal ini terjadi karena adanya koordinasi antar indera mereka, dengan mendengar beragam bentuk bunyi dan bahasa juga mata mereka yang melihat segala bentuk gerak, sehingga otak mereka tanpa disadari merekam semua bentuk bunyi dan gerak, sehingga menghasilkan asumsi yang terekam dalam otak, dan selanjutnya proses peniruan (imitation) menggunakan indera pengucap mereka, dan hal ini berlangsung secara konstant dan terus-menerus. Maka tak heran dari beberapa bulan kelahiran mereka, bayi dapat menghasilkan suatu bentuk bahasa walaupun dalam bentuk yang masih sangat sederhana, seperti pa,pa,ma,ma. Dan biasanya satu kata yang diucapkan oleh seorang bayi untuk pertama kalinya adalah bentuk kata-kata yang biasanya diucapkan oleh orangtuanya atau kata yang sering didengar oleh bayi tersebut.


Perkembangan bahasa pada seseorang sangat dipengaruhi oleh pengalaman (experience) dan interaksi (interaction) dengan lingkungannya. Dengan kata lain, tingkat kognisi dan aktivitas sosial. Secara cepat bahasa yang dimiliki seorang anak akan berkembang dan berubah sesuai dengan pertambahan usia dan pola yang dialami mereka. Bermain adalah salah satu cara bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan bahasanya. Dengan berinteraksi dalam suatu permainan dengan sesama temannya, mereka dapat menemukan beragam kosakata baru yang akan menunjang kemampuan perkembangan bahasanya. Oleh karena itu, lingkungan dan pola pertemanan yang baik juga pola asuh yan tepat akan sangat berpengaruh pada kemampuan berbahasa mereka. Anak yang terlahir dan berkembang dilingkungan jalanan, akan terbiasa menggunakan bahasa-bahasa yang kasar dan tidak formal. Anak yang biasa mendengar bahasa dan kosakata formal, cenderung akan menggunakan bahasa yang formal pula ketika mereka dewasa. Jadi lingkungan merupakan salah satu pemegang peranan penting dalam perkembangan pemerolehan bahasa.


Pada masa perkembangan anak, orang tua harus sering mendengarkan segala celoteh yang mereka sampaikan. Membuat anak merasa nyaman untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan, inginkan, dll merupakan salah satu proses dalam mendukung perkembangan bahasa mereka, karena pada dasarnya anak belajar berbahasa melalui berbicara.

Anak belajar melalui berbicara

Kamis, 22 April 2010

Language Planning

From Wikipedia, the free encyclopedia Language planning is a deliberate effort to influence the function, structure, or acquisition of a language or language variety within a speech community. It is often associated with government planning, but is also used by a variety of non-governmental organizations, such as grass-roots organizations and even individuals. The goals of language planning differ depending on the nation or organization, but generally include making planning decisions and possibly changes for the benefit of communication. Planning or improving effective communication can also lead to other social changes such as language shift or assimilation, thereby providing another motivation to plan the structure, function and acquisition of languages.
Types of language planning
Language planning has been divided into three types:
  1. Status planning : Status planning is the allocation or reallocation of a language or variety to functional domains within a society, thus affecting the status, or standing, of a language.
  2. Language status : Language status is a concept distinct from, though intertwined with, language prestige and language function. Strictly speaking, language status is the position or standing of a language vis-à-vis other languages. A language garners status according to the fulfillment of four attributes, described in the same year, 1968, by two different authors, Heinz Kloss and William Stewart. Both Kloss and Stewart stipulated four qualities of a language that determine its status. While Kloss and Stewart’s respective frameworks differ slightly, they emphasize four common attributes:
  • Language origin – whether a given language is indigenous or imported to the speech community
  • Degree of standardization – the extent of development of a formal set of norms that define ‘correct’ usage
  • Juridical status
  1. Sole official language (e.g. French in France and English in the United Kingdom)
  2. Joint official language (e.g. English and Afrikaans in South Africa; French, German, Italian and Romansh in Switzerland)
  3. Regional official language (e.g. Igbo in Nigeria; Marathi in Maharastra, India)
  4. Promoted language – lacks official status on a national or regional level but is promoted and sometimes used by public authorities for specific functions (e.g. Spanish in New Mexico; West African Pidgin English in Cameroon)
  5. Tolerated language – neither promoted nor proscribed; acknowledged but ignored (e.g. Native American languages in the United States)
  6. Proscribed language – discouraged by official sanction or restriction (e.g. Basque, Catalan during Francisco Franco’s regime in Spain; Macedonian in Greece)
  • Vitality – the ratio, or percent, of users of a language to another variable, like the total population. Kloss and Stewart both distinguish six classes of statistical distribution. However, they draw the line between classes at different percentages. According to Kloss, the first class, the highest level of vitality, is demarcated by 90% or more speakers. The five remaining classes in decreasing order are 70-89%, 40-69%, 20-39%, 3-19% and less than 3%. According to Stewart, on the other hand, the six classes are determined by the following percentages: 75%, 50%, 25%, 10%, 5%, and less than 5%.Together, origin, degree of standardization, juridical status, and vitality dictate a language’s status.
3. Functional domains
William Stewart outlines ten functional domains in language planning:
  1. Official – An official language “function[s] as a legally appropriate language for all politically and culturally representative purposes on a nationwide basis.” Often, the official function of a language is specified in a constitution.
  2. Provincial – A provincial language functions as an official language for a geographic area smaller than a nation, typically a province or region (e.g. French in Quebec)
  3. Wider communication – A language of wider communication is a language that may be official or provincial, but more importantly, functions as a medium of communication across language boundaries within a nation (e.g. Hindi in India; Swahili language in East Africa)
  4. International – An international language functions as a medium of communication across national boundaries (e.g. English)
  5. Capital – A capital language functions as a prominent language in and around a national capital (e.g. Dutch and French in Brussels)
  6. Group – A group language functions as a conventional language among the members of a single cultural or ethnic group (e.g. Hebrew amongst the Jews)
  7. Educational – An educational language functions as a medium of instruction in primary and secondary schools on a regional or national basis (Urdu in West Pakistan and Bengali in East Pakistan)
  8. School subject – A school subject language is a language that is taught as a subject in secondary school or higher education (e.g. Latin and Ancient Greek in English schools)
  9. Literary – A literary language functions as a language for literary or scholarly purposes (Ancient Greek)
  10. Religious – A religious language functions as a language for the ritual purposes of a particular religion (e.g. Latin for the Latin Rite within the Roman Catholic Church; Arabic for the reading of the Qu’ran)

Speech Act

Speech act is a technical term in linguistics and the philosophy of language. The contemporary use of the term goes back to John L. Austin’s doctrine of locutionary, illocutionary and perlocutionary acts. Many scholars identify ’speech acts’ with illocutionary acts, rather than locutionary or perlocutionary acts. Like with the notion of illocutionary acts, there are different opinions concerning the question what being a speech act amounts to. The extension of speech acts is commonly taken to include such acts as promising, ordering, greeting, warning, inviting someone and congratulating.

Speech act is a technical term in linguistics and the philosophy of language. The contemporary use of the term goes back to John L. Austin’s doctrine of locutionary, illocutionary and perlocutionary acts. Many scholars identify ’speech acts’ with illocutionary acts, rather than locutionary or perlocutionary acts. Like with the notion of illocutionary acts, there are different opinions concerning the question what being a speech act amounts to. The extension of speech acts is commonly taken to include such acts as promising, ordering, greeting, warning, inviting someone and congratulating.
Examples
  • Greeting (in saying, “Hi John!”, for instance), apologizing (“Sorry for that!”), describing something (“It is snowing”), asking a question (“Is it snowing?”), making a request and giving an order (“Could you pass the salt?” and “Drop your weapon or I’ll shoot you!”), or making a promise (“I promise I’ll give it back”) are typical examples of “speech acts” or “illocutionary acts”.
  • In saying, “Watch out, the ground is slippery”, Mary performs the speech act of warning Peter to be careful.
  • In saying, “I will try my best to be at home for dinner”, Peter performs the speech act of promising to be at home in time.
  • In saying, “Ladies and gentlemen, please give me your attention”, Mary requests the audience to be quiet.
  • In saying, “Race with me to that building over there!”, Peter challenges Mary.
Classifying illocutionary speech acts
Searle (1975) has set up the following classification of illocutionary speech acts:
  • Assertive = speech acts that commit a speaker to the truth of the expressed proposition
  • Directives = speech acts that are to cause the hearer to take a particular action, e.g. requests,    commands and advice
  • commissives = speech acts that commit a speaker to some future action, e.g. promises and oaths
  • Expressive = speech acts that expresses on the speaker’s attitudes and emotions towards the proposition, e.g. congratulations, excuses and thanks
  • Declarations = speech acts that change the reality in accord with the proposition of the declaration, e.g. baptisms, pronouncing someone guilty or pronouncing someone husband and wife?
SPEECH SITUATION
Contexts of language uses such as ceremonies, fights, hunts, classrooms, conferences, parties.
WHAT IS AN UTTERANCE?
Definition
  1. An utterance is a natural unit of speech bounded by breaths or pauses.
  2. An utterance is a complete unit of talk, bounded by the speaker’s silence.
Discussion
Utterance does not have a precise linguistic definition. Phonetically an utterance is a unit of speech bounded by silence. In dialogue, each turn by a speaker may be considered an utterance.
Linguists sometimes use utterance to simply refer to a unit of speech under study. The corresponding unit in written language is text.

SPEECH COMMUNITY
From Wikipedia, the free encyclopedia
Speech community is a concept in sociolinguistics that describes a more or less discrete group of people who use language in a unique and mutually accepted way among themselves.
Speech communities can be members of a profession with a specialized jargon, distinct social groups like high school students or hip hop fans (see also African American Vernacular English), or even tight-knit groups like families and friends. In addition, online and other mediated communities, such as many internet forums, often constitute speech communities. Members of speech communities will often develop slang or jargon to serve the group’s special purposes and priorities.